Pagar dan Teman

September 22, 2009 at 8:48 am (Relationship)

Pernah ada anak laki-laki yang berwatak buruk. Ayahnya memberinya sekantung paku dan menyuruhnya memaku sebatang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabaran atau berselisih paham dengan orang lain. Hari pertama ia memaku 37 batang paku di pagar.

Minggu berikutnya dia belajar untuk menahan dir, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih mudah menahan diri daripada memaku di pagar.

Akhirnya tiba saat ia tidak perlu memaku lagi di pagar. Dengan gembira ia bercerita pada ayahnya. Kemudian ayahnya menyuruh mencabut sebatang paku dari pagar setiap kali ia berhasil menahan diri atau bersabar.

Hari-hari berlalu sampai ia menyampaikan pada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut. Sang ayah membawanya ke pagar dan berkata: “Nak, kamu sudah baik, tetapi lihatlah betapa banyak lubang yang telah kau buat. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula.”

Kalau kamu berselisih paham dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti lubang pada pagar. Kalu bisa menusukkan pisau di punggung orang lain dan mencabutnya kembali, tetapi tetap akan meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali kau meminta maaf atau menyesal, lukanya tidak akan hilang. Luka melalui ucapan sama pedihnya seperti luka fisik.

Teman-teman adalah perhiasan langka. Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat. Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan, mereka menunjang dan membuka hatimu. Tunjukkan pada mereka betapa kau menyayangi mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.